initogel – Pagi belum sepenuhnya ramai ketika sejumlah warga yang melintas di bawah kolong jalan tol kawasan Cilincing, Jakarta Utara, dikejutkan oleh sesosok tubuh pria yang tergeletak tak bergerak. Di ruang yang selama ini menjadi tempat berteduh sementara bagi mereka yang terpinggirkan, pria itu ditemukan sudah tidak bernyawa.
Tak ada tanda kekerasan mencolok. Tak ada pula keramaian yang biasanya menyertai peristiwa kriminal. Hanya sunyi, dan rasa iba yang segera menyelimuti warga sekitar.
Menurut keterangan awal, pria tersebut diduga meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Tubuhnya ditemukan dalam posisi terbaring, dengan barang-barang sederhana di sekitarnya—cukup untuk menandakan bahwa kolong tol itu kemungkinan telah menjadi tempat tinggalnya dalam beberapa waktu terakhir.
Kolong Tol dan Mereka yang Terlupakan
Kolong jalan tol di kawasan perkotaan bukan sekadar ruang kosong di bawah beton raksasa. Bagi sebagian warga, tempat itu menjelma menjadi ruang hidup darurat—tempat berlindung dari panas, hujan, dan kerasnya kehidupan kota.
Temuan jasad ini kembali membuka mata banyak pihak tentang realitas sosial yang kerap luput dari perhatian: masih ada warga yang hidup di ruang-ruang tak layak, dengan akses kesehatan yang nyaris tak tersentuh.
Bila dugaan meninggal karena sakit ini benar, maka pertanyaannya sederhana namun mendalam: ke mana ia harus pergi ketika tubuhnya mulai melemah?
Akses Kesehatan yang Tak Sampai
Di kota besar, fasilitas kesehatan mungkin terlihat melimpah. Namun bagi mereka yang hidup tanpa alamat tetap, tanpa dokumen lengkap, dan tanpa pendamping keluarga, layanan itu sering kali terasa jauh dan rumit.
Pria yang ditemukan di kolong tol Cilincing ini, siapa pun namanya, diduga menghadapi kondisi tersebut. Sakit yang mungkin bisa ditangani lebih awal, akhirnya menjadi akhir perjalanan hidupnya—tanpa perawatan memadai, tanpa suara yang didengar.
Peristiwa ini bukan sekadar soal satu kematian. Ia adalah cermin dari celah kebijakan publik, khususnya dalam penjangkauan layanan kesehatan dan perlindungan sosial bagi kelompok rentan.
Antara Tanggap Darurat dan Tanggung Jawab Jangka Panjang
Aparat setempat telah melakukan penanganan sesuai prosedur, termasuk evakuasi jasad dan pendalaman penyebab kematian. Langkah-langkah ini penting sebagai respons cepat. Namun, publik berharap ada lebih dari sekadar penanganan administratif.
Kejadian ini seharusnya menjadi momentum evaluasi:
-
Sejauh mana pendataan warga rentan di ruang-ruang publik dilakukan?
-
Apakah ada mekanisme aktif untuk menjangkau mereka yang hidup di kolong tol, bawah jembatan, atau bangunan terbengkalai?
-
Bagaimana integrasi layanan kesehatan, sosial, dan kemanusiaan di tingkat akar rumput?
Kemanusiaan di Tengah Beton
Kolong tol Cilincing hari ini kembali lengang. Namun kisah yang tertinggal seharusnya tidak ikut menghilang. Di balik beton, kendaraan yang melaju cepat, dan hiruk pikuk kota, ada kehidupan yang berjalan pelan—bahkan berhenti—tanpa banyak yang menyadari.
Pria itu mungkin pergi dalam sunyi. Tetapi kematiannya menyisakan pesan keras: bahwa pembangunan fisik tanpa jaring kemanusiaan yang kuat akan selalu menyisakan mereka yang jatuh di bawahnya.
Dan selama kolong-kolong kota masih menjadi tempat terakhir untuk hidup dan mati, maka pekerjaan rumah kita sebagai masyarakat dan negara belum benar-benar selesai.

