BP3MI Riau Terima 2.707 PMI Bermasalah dari Malaysia Sepanjang 2025

Pekanbaru, Riau (initogel) — Satu per satu, mereka turun dari kendaraan penjemput dengan wajah lelah namun lega. Ada yang membawa tas kecil, ada pula yang hanya menggenggam dokumen seadanya. Sepanjang 2025, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Riau mencatat telah menerima 2.707 Pekerja Migran Indonesia (PMI) bermasalah yang dipulangkan dari Malaysia.

Angka tersebut bukan sekadar statistik tahunan. Ia merekam ribuan kisah—tentang harapan mencari penghidupan, tentang realitas kerja di negeri orang, dan tentang kepulangan yang tidak selalu berjalan mulus.

Kepulangan yang Tidak Direncanakan

Sebagian besar PMI yang diterima BP3MI Riau datang dalam kondisi rentan. Ada yang bermasalah dokumen, ada yang mengalami pelanggaran kontrak kerja, ada pula yang menghadapi persoalan hukum dan ketenagakerjaan. Tidak sedikit yang pulang tanpa tabungan, bahkan tanpa kejelasan masa depan.

“Yang kami terima itu macam-macam kasusnya,” ujar seorang petugas BP3MI. “Tapi hampir semuanya membutuhkan pendampingan sejak hari pertama tiba.”

Riau menjadi salah satu pintu utama pemulangan PMI dari Malaysia karena kedekatan geografis dan jalur lintas negara yang selama ini digunakan para pekerja migran.

Dari Pelabuhan ke Tempat Perlindungan

Setibanya di Indonesia, para PMI tidak langsung dipulangkan ke daerah asal. BP3MI Riau melakukan proses pendataan, pemeriksaan kesehatan, serta pendampingan awal. Bagi yang membutuhkan, disediakan tempat perlindungan sementara sebelum proses lanjutan dilakukan.

Di ruang tunggu sederhana, para PMI saling berbagi cerita. Ada yang ingin segera pulang ke kampung halaman, ada pula yang masih trauma dengan pengalaman kerja yang mereka alami.

“Yang penting sekarang saya sudah di Indonesia,” ujar Siti, salah satu PMI perempuan. “Soal nanti mau kerja apa, itu belakangan.”

Masalah yang Berulang

Jumlah 2.707 PMI bermasalah sepanjang 2025 menunjukkan bahwa persoalan pekerja migran masih menjadi tantangan besar. Faktor ekonomi, minimnya informasi, hingga jalur keberangkatan nonprosedural membuat banyak warga mengambil risiko tinggi demi bekerja di luar negeri.

BP3MI menilai sebagian kasus sebenarnya bisa dicegah jika calon PMI mendapatkan informasi dan pendampingan yang memadai sejak awal.

“Kami terus mengingatkan, bekerja ke luar negeri harus lewat jalur resmi,” kata petugas tersebut. “Risikonya jauh lebih besar kalau tidak.”

Perlindungan, Bukan Sekadar Pemulangan

Bagi BP3MI Riau, tugas mereka tidak berhenti pada pemulangan. Perlindungan mencakup pemulihan fisik dan mental, fasilitasi kepulangan ke daerah asal, hingga koordinasi dengan instansi terkait jika PMI memiliki kasus hukum atau membutuhkan bantuan lanjutan.

Pendekatan ini penting agar para PMI tidak kembali terjebak dalam siklus keberangkatan bermasalah yang sama.

“Kami ingin mereka pulang dengan aman dan punya pilihan ke depan,” ujar seorang pendamping PMI.

Di Balik Angka, Ada Manusia

Setiap PMI yang dipulangkan membawa cerita berbeda. Ada yang bertahun-tahun bekerja tanpa kontrak jelas, ada yang menjadi korban eksploitasi, dan ada pula yang gagal karena perbedaan realitas kerja dengan janji awal.

Namun di balik itu semua, ada satu benang merah: keinginan untuk hidup lebih baik.

“Mereka bukan ingin melanggar aturan,” kata seorang relawan. “Mereka hanya ingin bertahan hidup.”

Harapan Setelah Pulang

Bagi para PMI yang kembali melalui BP3MI Riau, kepulangan adalah awal baru—meski tidak selalu mudah. Tantangan ekonomi masih menunggu, stigma sosial kadang membayangi, dan trauma belum sepenuhnya hilang.

Namun kepulangan juga membawa harapan: kesempatan untuk memulai kembali, kali ini dengan pengalaman dan pelajaran yang mahal harganya.

Sepanjang 2025, 2.707 PMI telah kembali ke tanah air melalui Riau. Di balik setiap angka itu, ada satu harapan yang sama: agar bekerja mencari nafkah tidak lagi harus dibayar dengan penderitaan.

Related Post